Cerita Kita Tentang Taman Hutan Raya Pancoran Mas

Gambar”Jangan katakan ke taman hutan raya (Tahura), tapi sebut saja ke cagar alam. Masyarakat sudah terbiasa begitu, meski statusnya telah berubah sejak 1999” ucap Teddy Rustandy, Staf Bidang Pemantauan Sub Bidang Konservasi Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok.

Siang tampak cerah dan matahari garang memancarkan sinarnya. Tidak ingin kehilangan waktu, kami segera beranjak dari kantor yang berlokasi di kawasan ruko Sukmajaya, Jalan Tole Iskandar Depok, itu tanpa lupa mengucap kata terima kasih. Informasi singkat tadi sekaligus memberi gambaran awal pada kami tentang Tahura Pancoran Mas. Hutan mini kebanggaan masyarakat Depok yang rencananya bakal dijadikan kawasan ekowisata.

Angkutan kota membawa kami ke Stasiun Kereta Api Depok Lama sebagai tujuan utama. Berdasarkan petunjuk Pak Teddy tadi, jarak tahura dari stasiun tidaklah jauh, sekitar satu kilometer atau dua puluh menit berjalan kaki. Namun, bila ingin cepat sampai bisa menggunakan jasa ojek.

Kami putuskan pilihan pertama, berjalan kaki. Untuk memastikan arah, kami coba bertanya pada petugas parkir dekat stasiun tentang rute yang harus ditempuh. Benar saja, ketika awalnya kata tahura disebutkan, ia agak bingung. Namun, setelah diralat dengan kata cagar alam, langsung dijelaskan kalau kami harus menyeberangi lintasan kereta api terlebih dahulu untuk selanjutnya mengikuti gang aspal semen yang merupakan jalan utama warga sekitar. Tiada hambatan berarti, kami meluncur pasti.

**

GambarSecara administratif, Tahura Pancoran Mas berada di Kelurahan Pancoran Mas, Kecamatan Pancoran Mas, Kotamadya Depok, Provinsi Jawa Barat. Luasnya, berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Belanda No.7 Tanggal 13 Mei 1926 (Staat Blad No. 245) dan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.276/Kpts-II/1999 tanggal 7 Mei 1999 adalah 6 hektar.

Cornells Chastelein, tuan tanah peranakan Belanda-Perancis eks VOC, adalah pemilik pertama Cagar Alam Depok. Chastelein dikenal juga sebagai saudagar yang membuka lahan untuk perkebunan sekitar abad ke-17. Dengan status tanah partikelir, Chastelein membelinya seharga 700 ringgit.

Setelah Chastelein wafat, tanah tersebut dihibahkan kepada Pemerintah Belanda. Berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Belanda No.7 Tanggal 13 Mei 1926 (Staat Blad No.245) maka kawasan tersebut ditetapkan sebagai cagar alam.

Pemerintah Indonesia pada 1952 memberi ganti rugi Cagar Alam Depok. Artinya, tanah tersebut menjadi milik Pemerintah Indonesia kecuali hak-hak eigendom dan beberapa bangunan seperti gereja, sekolah, pastoran, balai pertemuan, dan Pemakaman seluas 0,8621 hektar.

Awalnya, pengawasan Cagar Alam Pancoran Mas berada di bawah Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bogor. Namun, dengan adanya perubahan ketentuan membuat pengelolaannya dilimpahkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta.

Berdasarkan SK Menhutbun No.276/Kpts-II/1999 tanggal 7 Mei 1999, kawasan ini berubah statusnya dari Cagar Alam menjadi Taman Hutan Raya yang berada di bawah naungan Departemen Kehutanan. Namun, dalam pengelolaannya dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat yang selanjutnya diserahkan kepada Pemerintah Kotamadya Depok. Sekitar tahun 2009, pengelolaan Tahura Pancoran Mas ini diserahkan kepada Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok.

**

GambarMenurut penuturan Soemardi, pensiunan Dinas Kehutanan DKI yang telah menetap di sebelah tahura sejak 1974, dahulu nuansa alami sangat terasa di tahura ini. ”Karena tidak terawat, bentuk hutan aslinya tidak terlihat lagi” paparnya.

Berdasarkan survei Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Depok dengan IPB (sebelum diserahkan ke BLH) 2006 mengenai Rencana Pengembangan Tahura Pancoran Mas menunjukkan bahwa satwa liar yang hidup sebagian besar berasal dari kelas aves (burung), mamalia kecil, reptilia, dan amfibi. Jenis-jenis burung yang biasa dijumpai adalah cinenen pisang (Orthotomus sutorius), cingcoang coklat (Brachypteryx leucophrys), tekukur biasa (Stigmatopelia chinensis), cipoh kacat (Aegithina tiphia), dan srigunting jambul-rambut (Dicrurus hottentottus).

BLH Depok sendiri sudah melakukan tata batas lahan dan mengirimkan proposal penataan tahura kepada Kementerian Kehutanan. Harapannya adalah menjadikan Tahura Pancoran Mas sebagai kawasan ekowisata seperti halnya Kebun Raya Bogor.*

Foto: Rahmadi

Tautan: Majalah Burung “Benteng Alam Pemberi Suaka” http://www.burung.org/category/2.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s