Surya Saputra Bicara Lingkungan

Di balik sosoknya yang atletis, artis ngetop satu ini sangat ramah saat disapa. Tak tanggung-tanggung, ia berikan juga nomor handphone nya sambil berkata “Silakan hubungi kapan saja. Anytime”. Acungan dua jempol tangannya pun makin menunjukkan bahwa ucapannya itu mengandung arti garansi dua ratus persen.

Gambar

Foto: Rahmadi

Siang itu, tak sia-sia saya hadir ke Gedung Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah (TMII) guna menghadiri “Updates From The Region. Exploring Gorontalo: Trade, Tourism, Investment, Opportunities and Road to World Maize Conference 2012”. Selain bertatap langsung dengan sang Artis dan istrinya yang manis, saya juga punya akses untuk ngobrol lebih jauh. Awal yang baik untuk sebuah relasi.

Sebelumnya, saya sempat wawancara singkat dengannya. “Mas Surya” perkenalkan saya dari sebuah lembaga yang peduli lingkungan. Menurut Mas Surya, kira-kira adakah hubungan signifikan antara acara yang kita hadiri ini dengan kelestarian hutan Indonesia? tanyaku.

Sekitar tiga detik, kami saling menatap. Terlintas dalam pikiranku, jangan-jangan nantinya ia “no comment” karena pertanyaan tersebut tidak ada relevansinya dengan kegiatan yang ia dan saya sambangi hari ini. Atau barangkali…

Bak gayung bersambut, sebuah senyum khas mengembang di bibirnya. Jangan salah Mas, saya juga peduli lingkungan. “Saya anggota kehormatan di sebuah lembaga lingkungan lho” jawabnya mantap. Aktor setinggi 186 cm ini ternyata tahu banyak tentang lingkungan. Pernyataan tersebut sontak membuat otak saya kembali normal setelah serasa diperas sebelumnya.

Bisa dikata, mewawancara artis merupakan sebuah pekerjaan menyenangkan. Perasaan nyaman dan betah untuk berlama-lama merupakan sesuatu yang tak terbantahkan. Meski kadang, kita harus “ikut arus” guna menanyakan info terbaru perihal aktivitas yang sedang digelutinya.

“Kita lanjutkan via telpon saja ya” pinta Surya.

Agak kaget juga dengan pernyataannya yang mendadak. Rasanya, sejauh ini tidak ada yang keluar koridor dan masih dalam batas aman. Bahkan, kerubutan penggemar yang sudah antri ingin photo bareng dengannya tidaklah mengganggu. Maklum, bagi artis kondang seperti Surya, menghadapi fans fanatik yang ingin photo narsis merupakan bagian dari risiko pekerjaanya.

Aku anggukkan juga kepala tanda setuju. Sesaat, terbayang pula nilai kerugian yang diderita dengan tertundanya wawancara ini. Bisa jadi, angkanya jauh melebihi dua ratus persen dibanding dengan apa yang ia berikan sebelumnya. Pasalnya, akan banyak hal yang harus kulakukan untuk bertemu dirinya kembali. Terlebih, menyusun jadwal pertemuan dengan public figure super sibuk seperti dirinya.

Tapi sudahlah, toh kesepakatannya adalah interview by phone bukan bertemu empat mata. Sebelum berpisah, secarik kartu nama beserta majalah edisi terbaru yang akan memuat pandangan dirinya tentang lingkungan kuserahkan.

Tak berjeda lama, selebritis yang terlihat menawan dengan balutan baju kuning keemasan tersebut menyeruak dari kerumunan.

 **

Bicara liputan mengesankan, sekelebat pikiranku jauh menerawang ke hutan belantara, tepatnya Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Saat itu, bersama beberapa rekan kami melakukan kunjungan ke sebuah tempat nun jauh di pedalaman.

Dusun Tuo Datai, nama perkampungan suku tradisional Talang Mamak yang kami tuju. Letaknya di Hulu Sungai Gansal Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Menurut sejarahnya, dusun ini telah berdiri sejak penjajahan Belanda sehingga lebih dahulu ada ketimbang taman nasional.

Untuk menemui suku yang tergolong Melayu Tua ini, kami harus siap menderita. Karena, bila jalan kaki dari desa terdekat; Desa Keritang, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir, akan memakan waktu dua hari dua malam. Jangan harap ada mobil angkutan, karena rute eks hph (Hak Pengusahaan Hutan) yang kiri-kanannya jurang menganga ini bukanlah jalan raya. Satu-satunya kendaraan yang bisa mengantar ke tujuan adalah menyewa ojek.

Perjuangan dengan ojek belumlah usai karena ia hanya siap mengantar hingga ke batas taman yang jaraknya sekitar 20 km dari desa tersebut. Selebihnya, meski ke Dusun Tuo Datai hanya 6 km lagi, harus dilalui jalan kaki. Dibutuhkan stamina jreng untuk menaklukkan medan berbukit, berlembah, yang diakhiri menyeberangi sungai. Rata-rata, sekitar 3-4 jam waktu yang diperlukan. Namun, suku Talang Mamak menganggap rute ini cemen alias tidak ada apa-apanya. Saat hari pasar, mereka biasanya turun ke desa dengan berjalan kaki selama 12 jam tanpa henti.

Keberadaan suku yang memang mengasingkan diri dari keramaian masyarakat ini sungguh menarik perhatian. Hidupnya yang mengandalkan kemurahan alam telah dipertahankan sejak puluhan tahun. Bagi mereka, apa yang mereka panen dari alam seperti rotan, madu, atau jernang hanya sebatas yang diperlukan. Tiada kata eksploitasi. Termasuk pemanfaatan obat tradisional.

**

Pagi menjelang siang, kuputuskan menghubungi artis yang terkenal sebagai Igo di sinetron Cerita Cinta itu. Masih terngiang di telingaku akan janjinya yang bersedia dihubungi kapanpun. Hari ini, merupakan pembuktian.

Sesaat, kutarik nafas agak dalam, ketika lagu Bahagia hasil duetnya dengan istri tercinta mengalun lirih sebagai nada sambung pribadi di ponselnya. Aku benar-benar menghubunginya.

 “Hallo. Assalamualaikum. Terdengar jelas suaranya”

Waalaikumsalam. Selamat pagi, Mas Surya Saputra. Saya dari lembaga peduli lingkungan yang interview minggu lalu”.

“O, iya saya ingat. Mohon maaf bila saat itu saya kurang konsentrasi. Suasananya sangat riuh”.

“Apakah sekarang Mas Surya ada waktu?” tanyaku.

“Dengan senang hati. Saya paling bersemangat membincang lingkungan dan masalahnya”.

Dari jawabannya yang antusias, aku mulai paham mengapa Surya bersedia melanjutkan pembicaraan tempo hari yang sempat terputus. Surya ingin menampilkan sosoknya sebagai warga yang peka akan isu lingkungan.

Menurutnya, selama ini, aspirasi mengenai penyelamatan lingkungan yang sering ia dengungkan selalu membentur tembok kokoh bernama “birokrasi.” Padahal, pesan yang ingin disampaikan adalah menjaga kelestarian hutan merupakan tugas kita bersama.

“Mengapa sih harus ada birokrasi?” tuturnya.

**

Pembicaraan kami di telepon ibarat teman lama yang baru bersua. Tanpa jarak dan basa-basi. Benar-benar komunikasi dinamis, sebagai pertanda bahwa kami memiliki kesamaan persepsi terhadap apa yang sedang dibicarakan. Seperti definisinya Stewart L Tubbs & Sylvia Moss: “Komunikasi merupakan proses pembentukan makna di antara dua orang atau lebih.”

Sebagai angota kehormatan sebuah lembaga peduli lingkungan, Surya ingin menunjukkan bahwa dirinya cukup kapabel dengan predikat tersebut. Dari isu “carbon trade” yang lagi hangat hingga pencadangan “geothermal” sebagai energi alternatif, ia lahap habis. Ia contohkan pula beberapa tempat yang pernah dikunjungi.

Apakah kepeduliannya terhadap lingkungan karena memanfaatkan popularitas?

Dilihat dari perjalanan karirnya, belum ada catatan yang menunjukkan Surya Saputra sebagai pegiat lingkungan. Sejak tergabung dalam grup vokal Cool Colors hingga menyabet penghargaan Pemeran Pembantu Pria Terbaik (Festival Film Indonesia 2004) dan Most Favorite Supporting Actor (MTV Indonesian Movie Awards 2004) dalam film Arisan (2003), belum pernah terdengar gaungnya dalam konservasi. Bahkan, hingga lelaki kelahiran 5 Juli ini ikut membintangi Jamila dan Sang Presiden (2009) tidak ada juga kabarnya.

DSC_0012_1

Foto: Rahmadi

Menurut Surya, kecintaannya terhadap lingkungan sudah tertanam sejak dini. Di komplek tempat tinggalnya, secara sadar ia berupaya mengajak warga untuk selalu hemat energi dan menjaga lingkungan dari polusi. Ia juga membiasakan diri mencintai binatang yang ada di sekitar, kucing sekalipun.

Bukan basa-basi pula, di sela-sela kesibukannya sebagai pemeran utama dan produser FTV, penyuka semur jengkol ini masih tekun merawat anggrek. Bagi Surya, kecintaan terhadap anggrek merupakan wujud kepedulian terhadap lingkungan. “Indonesia kalah cepat dari Thailand yang telah memproklamirkan terlebih dahulu. Padahal, secara varietas kita memiliki keunggulan” paparnya.

Kepedulian lingkungan dan kecintaannya pada flora-fauna membuat Surya menggerakkan hati bergabung dengan lembaga lingkungan yang kondang dengan logo panda dan jargon Earth Hour nya. Keterlibatannya sejak medio 2009 sebagai Suporter Kehormatan bukan karena dipilih, melainkan atas inisiatif pribadi.

**

Meski berprofesi artis, Surya selalu mengikuti perkembangan hutan Indonesia yang menjadi sorotan dunia. Menurutnya, hutan tropis Indonesia yang luasnya ke tiga di dunia, memainkan peran penting bak paru-paru dunia.

Tidak dipungkiri, hutan merupakan lumbungnya keragaman hayati yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan, papan, obat-obatan, hingga sumber daya genetik. Data Kementerian Lingkungan Hidup (2010) menunjukkan sebanyak 40 juta penduduk Indonesia di pedesaan menggantungkan hidupnya dari keragaman ekosistem di sekitar mereka, termasuk hutan.

Namun, tingginya laju deforestasi sebesar 1,17 juta hektar/tahun akibat illegal logging, alih fungsi hutan, perambahan, atau kebakaran membuat hutan Indonesia menghadapi tekanan berat. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan 2008 luas kawasan berhutan di Sumatera hanya sekitar 51%. Sedangkan Sulawesi dan Kalimantan juga memperlihatkan kondisi yang tidak jauh berbeda, masing-masing sekitar 67% dan 68%.

Bila dipandang dari kacamata lingkungan, Surya berpendapat, ada dua persoalan mendasar dalam pengelolaan hutan Indonesia saat ini. Pihak yang ingin melestarikan selalu berhadapan vis a vis dengan pihak yang ingin membisniskan hutan. Menurutnya, seharusnya pemerintah menerapkan penalty yang keras dan mempertegas aturan di lapangan untuk mereka yang hanya mengejar profit tanpa memerhatikan kelestarian. Konsep pengelolaan hutan lestari dengan memperhitungkan keseimbangan alam haruslah diterapkan.

“Bila tidak, apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu kelak?”

**

Sekali waktu, sebelum berangkat umroh, Surya pernah diajak rekannya menjalankan bisnis kayu. Sasarannya adalah Papua yang hutannya masih lebat dan kayunya lumayan bulat. Menurut penuturan calon patnernya itu, profit yang dihasilkan akan menggoyahkan iman karena angkanya yang triliunan rupiah. Surya gusar juga dengan ”obyekan” menggiurkan itu. Namun, akal sehatnya yang urung terkontaminasi segera berkata: “Gimana jadinya Indonesia bila pola pikir kita begini semua?”

Bukan rahasia lagi, meningkatnya tekanan terhadap hutan berkaitan erat dengan faktor kemiskinan, pemanfaatan sumber daya dan lahan hutan, serta pengembangan pertanian. Faktor-faktor tersebut sering mendorong terjadinya kerusakan hutan hingga pemanfaatatan sumber daya alam yang berlebihan. Terdesaknya kehidupan harimau, gajah, orangutan, dan burung yang terkadang menyebabkan konflik antara manusia dengan satwa merupakan akibat dari terganggunya habitat alami (hutan) mereka yang terus tergerus.

Kegelisahan Surya cukup beralasan. Deforestasi dan degradasi hutan telah menimbulkan permasalahan besar yang tak hanya mengakibatkan efek gas rumah kaca tetapi juga memengaruhi perubahan iklim.

Bila bukan manusia yang menjaga kelestarian hutan, keberadaan satwa, serta keseimbangan alam lha siapa lagi? “Sudahkah kita menciptakan kondisi yang nyaman di muka bumi ini?” papar suami Cyntia Lamushu di ujung telepon sekaligus mengakhiri pembicaraan.*

Link Terkait: http://www.burung.org/Artikel/artis-a-konservasi-kala-surya-saputra-bicara-lingkungan.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s