Prita Laura dan Alam Indonesia

Rahmadi_BI

Foto: Rahmadi

Panggil nama saja, tidak pakai mbak. ”Saya sudah terbiasa begitu” ujar Prita Laura, ditemui sesaat setelah memandu talkshow bertema lingkungan.

Ya, bagi Prita, membicarakan kelestarian alam bukanlah sesuatu yang baru. Sudut-sudut Indonesia yang menyajikan panorama eksotis, dari daratan hingga lautan, sebagian besar sudah ia jelajahi.

Tak heran, ketika ditanya bagaimanakah kondisi kekayaan alam Indonesia saat ini, jawaban yang mengalir banyak keluar dari pengalaman lapangannya.

Menurut Prita, Indonesia merupakan negara dengan kekayaan hayati yang tinggi. Tumbuhan berbunga, mamalia, serta reptilia dan amfibia di dunia ada di Indonesia. ”Keragaman hayati yang dimiliki Indonesia sungguh membuat negara lain iri” paparnya.

Namun, kelemahan mendasar yang kita miliki adalah seluruh potensi biodiversity tersebut belum tertata rapi. Database yang ada belum terorganisir dengan baik. Misalnya, banyak peneliti asing yang berbalut turis datang ke Indonesia. Dengan bebasnya, mereka melakukan riset yang hasilnya dibawa ke negara mereka: dan diklaim milik mereka juga. Ironisnya, kita diwajibkan membayar bila ingin mengakses hasil penelitian tersebut.

Lemahnya data ini makin diperparah dengan pencurian dan perdagangan satwa. Kita tidak tahu apa yang dicuri dan kita juga tidak tahu apa yang kita miliki. ”Negara kita terlalu kaya tapi terlalu rentan untuk kehilangan asetnya” imbuh si pengagum burung rangkong.

**

          Mengenai satwa, Lulu punya pengalaman yang menurutnya bisa disebut klasik. Pernah, ketika membuat liputan satwa sitaan hasil seludupan, ia melakukan konfirmasi ke badan karantina. Hal yang ingin ditanyakan adalah apakah hewan tersebut langka atau tidak. Tetapi, jawaban yang ia dapat adalah satwa tersebut belum terdata.

Namun begitu, wanita kelahiran 26 Juni ini berpendapat, kurang bijaksana bila persoalan yang ada diserahkan begitu saja kepada pemerintah, yang notabene belum bisa mengurus semua. Kekayaan hayati alam Indonesia mutlak milik bangsa Indonesia, karena itu ada tanggung jawab bersama untuk melestarikannya.

Sebagai contoh, dulu, harimau marak dikoleksi dengan diairkeraskan. Namun, setelah diketahui bahwa kucing besar tersebut satwa langka dilindungi, masyarakat sadar bahwa perilaku tersebut salah dan harus dirubah.

Sudah dipastikan, keragaman hayati merupakan tulang punggungnya kehidupan di muka bumi. Dalam keragaman hayati tercakup ragam genetika, spesies, hingga ekosistem yang semua itu merupakan jaring tak terpisahkan antara organisme dengan lingkungannya.

Pembenahan database dan payung hukum yang kuat harus dimulai. Begitu pula sosialisasi intensif kepada masyarakat yang mesti dilakukan agar tidak terjadi lack of knowledge. ”Bisa saja, perdagangan burung dan satwa liar terjadi akibat ketidaktahuan mereka” sebut sang pencinta olahraga diving.

Pagi itu, kawasan Senggigi, Lombok, Nusa Tenggara Barat makin indah dan berkesan dengan kehadiran presenter cantik yang dikenal lewat program Archipelago ini.*

Tautan: http://blog.burung.org/2012/03/prita-laura-dan-alam-indonesia.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s