Wisata ke Suku Talang Mamak, Siapa Takut!

Bagi yang suka menjelajah hutan, cobalah datang ke Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Ada komunitas Suku Talang Mamak yang hidup nun jauh di pedalaman hutan tersebut.

Image

Foto: Lander RJ/KKI Warsi

Dusun Tuo Datai, nama perkampungan tempat suku tradisional Talang Mamak itu menetap. Letaknya di Hulu Sungai Gansal dan Sungai Melenai Desa Rantau Langsat Kecamatan Batang Gansal Kabupaten Indragiri Hulu Riau.

Untuk mengakses wilayah ini akan lebih menarik bila ditempuh jalur darat, yaitu melalui Siberida (Pekanbaru-Siberida 285 km) untuk menuju jalan bekas Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Atau juga melalui Simpang Pendowo yang jaraknya sekitar 2,5 km dari desa Keritang, desa di Kecamatan Kemuning Kabupaten Indragiri Hilir yang  berbatasan langsung dengan Kabupaten Indragiri Hulu, Riau.

Berikutnya, dari Simpang Pendowo dilanjutkan ke perbatasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Perjalanan akan lebih mengesankan bila dilakukan dengan sepeda motor lelaki, mengingat rute sejauh 16 km ini merupakan perbukitan terjal yang sisi kiri-kanannya jurang menganga.

Perjuangan ini belumlah selesai, karena masih ada 6 km lagi jarak yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Meski tidak begitu jauh namun sangat menguras tenaga. Diperlukan stamina jreng untuk mendaki bukit, melewati lembah, dan menyeberang sungai agar tiba di dusun ini. Setidaknya butuh 3 hingga 4 jam. 

Ternyata, kondisi yang luar biasa sulit ini adalah hal biasa bagi Suku Talang Mamak. Seperti yang dituturkan Pak Katak atau Sidam, sang tetua adat, pada hari tertentu mereka akan turun ke desa terdekat (Keritang dan Siberida) untuk menjual hasil kebun dan hutan. ”Kami sudah terbiasa jalan kaki 12 jam tanpa henti,” jelasnya! 

**

Sebagaimana suku tradisional, Suku Talang Mamak merupakan masyarakat yang masih menggantungkan hidup dari hasil hutan sejak ratusan tahun lalu. Mereka masih mencari rotan dan jernang disamping menanam ubi dan padi. Mereka juga masih berburu dan mengambil madu. Umumnya, mereka hidup di sekitar hutan penyangga atau di dalam Taman Nasional Bukit Tigapuluh yang terbentang di provinsi Riau-Jambi (144.223 hektar).

Rumah Talang mamak. Dok WARSI

Foto: Lander RJ/KKI Warsi

Ada dua versi mengenai keberadaannya. Menurut Obdeyn -Asisten Residen Indragiri, Suku Talang Mamak berasal dari Pagaruyung yang terdesak akibat konflik adat dan agama. Sedangkan menurut mitos, suku ini merupakan keturunan Adam ke Tiga dari kayangan yang turun ke Bumi, tepatnya di Sungai Limau dan menetap di Sungai Tunu (Durian Cacar).

Mereka tersebar di empat wilayah yaitu tiga wilayah di provinsi Riau: Kecamatan Batang Gansal, Kelayang, dan Rengat Barat. Sedangkan satu kelompok berada di Dusun Semarantihan, Desa Suo-suo, Kecamatan Sumai, Kabupaten Tebo, Jambi.

Menurut Pak Katak, Dusun Tuo Datai memang sudah berdiri sejak penjajahan Belanda. Tujuannya untuk menghindari peperangan. Sehingga keberadaan dusun ini memang lebih dahulu ada ketimbang Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Inilah sejarah awal mengapa mereka menetap di pedalaman hutan.

**

Berkunjung ke Dusun Tuo Datai tanpa mengarungi Sungai Gansal ibarat ”Sayur tanpa garam.” Banyak turis asing datang khusus menikmati keindahan sungai ini. ”Para turis, selain berwisata biasanya juga mengadakan penelitian,” ungkap Pak Katak.  

Sungai Gansal merupakan kebanggaan masyarakat Datai. Airnya jernih sehinga dasar sungai terlihat. Dalamnya tidak lebih sepusar orang dewasa. Bebatuan alamnya besar dan cadas. Pepohonan hijau nan lebat mengapit aliran sungai ini.

Bersampan ria menelusuri Sungai Gansal adalah pekerjaan menyenangkan. Ibarat arung jeram. Terkadang, sampan yang kita naiki karam karena melewati daerah dangkal. Kita harus rela turun dan berbasah-basah mengangkatnya. Tak jarang juga kita melewati aliran sungai yang deras, salah sedikit saja perahu terbalik. Namun jangan khawatir, karena Pak Katak dan masyarakat Datai sangat mahir mengemudikan perahu.  

Di Sungai Gansal, alam terlihat begitu indah. Salah satunya adalah Sigulang-gulang Melenai, jeram tiga tingkat dengan tinggi masing-masing tingkat sekitar dua meter. Debit airnya besar, membuat bentuknya seperti air terjun rendah.

Di sepanjang Sungai Gansal, kita bisa melihat kehidupan Suku Talang Mamak. Mereka menjadikan sungai sebagai urat nadi seperti mandi, mencuci, dan mencari ikan. Saat musim durian tiba misalnya, masyarakat setempat menggunakan sungai sebagai sarana transportasi untuk memasarkan hasil kebunnya itu.

Masyarakat Datai juga percaya akan mitos di sepanjang sungai Gansal yang diwujudkan dalam bentuk batu, lubuk, rantau, dan hutan. Mereka tidak akan berkata sembarangan bila melewatinya. Mitos paling terkenal adalah pohon sialang dan legenda goa pintu tujuh.    

Sungai Gansal.Dok WARSI

Foto: Lander RJ/KKI Warsi

Saking berharganya pohon sialang ini, bila seseorang dengan sengaja merusaknya maka seisi kampung harus berduka cita. Sang pelaku akan didenda kain putih sepanjang lilitan pohon, 1 ekor kambing, 30 gantang beras (75 kg) dan kelapa setali (25 butir) yang nantinya dimasak dan dimakan bersama setelah upacara duka selesai dilakukan.

Potensi alam yang tak kalah menarik adalah Cindawan Muka Rimau (Rafflesia hasselti), tumbuhan langka dilindungi. Tanaman ini memiliki lima kelopak, bercorak merah putih dengan batang inang yang ditumpangi bunganya berdaun lima. Rafflesia hasselti hanya ditemui di Dusun Tuo Datai yang mekarnya sekali dalam setahun, antara Mei dan Juni.

Dua hari menelusuri Sungai Gansal dari Dusun Tuo Datai hingga ke Rantau Langsat, pemberhentian terakhir, akan serasa singkat. Pemandangan alamnya sungguh memikat. Ada yang minat? *

One thought on “Wisata ke Suku Talang Mamak, Siapa Takut!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s