Profesor Pekarangan Sejati

Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, MS.

Sekitar empat jam kami bertandang ke rumah Hadi Susilo Arifin. Durasi sepanjang itu nyatanya belum mampu menghapus dahaga kami untuk berbincang lebih jauh dengan Guru Besar Manajemen Lanskap Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

ImageWaktu menunjukkan pukul 06.30 WIB saat kami menyambangi kediamannyadi Laladon Permai, Bogor. Kedatangan kami yang tergolong pagi untuk ukuran tamu ini, tentunya atas saran dan persetujuan sang pemilik rumah. Dalam surat undangan elektroniknya, reviewerjurnal ilmiah International Journal of Landscape and Urban Planning-Elsevier dan Landscape and Ecological Engineering-Springer ini meyakinkan kami bahwa antara jam 06.00-07.00 pagi merupakan waktu yang tepat untuk berkunjung. Pada rentang itu, rumahnya tak hanya ramai didatangi burung, tetapi juga hidupan liar lain seperti kupu-kupu, capung, kadal dan tupai. Tak pelak, tawaran itu kami iyakan tanpa harus banyak pertimbangan.

Dari depan pintu pagar, kami melihat aneka tanaman tersusun rapi. Ada rerumputan, perdu, pisang hias (Heliconia collinsiana), hingga rambutan binjai yang sedang berbuah muda.Semuanya terawat baik. Di gerbang masuk itu, kami berhenti sejenak. Sedalam mungkin, kami hirup udara segar beraroma bunga kamboja bali yang terpancar, untuk selanjutnya beranjak ke dalam.

Kekaguman kami bertambah tatkala memasuki rumahnya yang bernuansa ala Jepang. Mata kami nanar melihat sekeliling. Jelas, tidak ada satu pun sudut ruangan yang tidak dihias bunga hidup. Baik yang dalam pot ataupun yang merambat, semua berada dalam posisi yang tepat.

“Selamat datang” ucap Hadi ramah menyambut kami. “Kita langsung ke halaman samping ya” lanjutnya lagi. Belum juga kekaguman kami hilang, kami kembali disuguhkan pemandangan pekarangan yang indah. Di tangan Anggota Senat Akademik IPB dan Ketua Komisi A Dewan Guru Besar IPB ini, rumah, pekarangan, dan isinya, menjadi luar biasa.

Di pohon jambu air citra itu, setiap malam terdengar suara burung hantu, kata Hadi sembari menunjuk tanaman Syzygium samarangense di pekarangan belakang rumahnya. Dulu, si burung datang antara pukul 21.00 atau 22.00 WIB. Sekarang, saat matahari baru terbenam, ia sudah bernyanyi “kuk kuk kuk” lalu menghilang sekitar pukul 02.00 atau 03.00 dini hari.

Awalnya, tamu-tamu yang menginap takut mendengar suaranya. Burung hantu kan dikenal angker. Namun, setelah melihat pekarangan di sini yang bersih, mereka tidak khawatir lagi. “Bila ada waktusilakan datang malam, kita lakukan pengamatan” tantangnya.

Profesor Pekarangan

Pembicaraan kami berlanjut di pekarangan belakang. Di sini tampak jelas bagaimana koordinator mata kuliah Ekologi Lanskap, Lanskap Perdesaan dan Pertanian, serta Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan bagi mahasiswa pascasarjana inimengatur sekitar 170 jenis tanaman sesuai peruntukannya. Di ruang terbuka hijau seluas 800 meter persegi itu, aneka tanaman segar berseri. Tanaman hias, obat, buah, bumbu, sayur, tanaman bahan baku industri, hingga penghasil pati seperti sukun dan ganyong saling berbagi sinar mentari.

Image

Pria berkacamata inimemang jawaranya pekarangan. Kompetensinya di ekologi dan manajemen lanskap dan gelar doktor yang diperolehnya di The Graduate School of Technology and Science, Okayama University Jepang tahun 1994-1998 membuatnya dikenal sebagai profesornya pekarangan. Sejak 2010 hingga sekarang, Hadi pun aktif sebagai narasumber di program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian yang menangani pemberdayaan pekarangan pada level dasawisma untuk 400 kota/kabupaten di Indonesia.

Keahliannya di landskap ini mulai terasah kala ia bersama seniornya di IPB mendirikan Program Studi Arsitektur Pertamanan tahun 1985. Pada 1999, Hadi mendirikan Program Studi Arsitektur Lanskap Pascasarjana yang puncaknya berdiri Departemen Arsitektur Lanskaptahun 2005. Kepakarannya di Arsitektur Lanskap ini pula yang membuatnya menjadi KetuaForum Pendidikan Arsitektur Lanskap Indonesia (FPALI) untuk periode 2004-2009 dan 2009-2013. Keanggotaannya lumayan luas, membawahi 23 universitas negeri dan swasta di Indonesia yang memiliki jurusan/departemen, program studi, atau peminatan di bidang arsitektur lanskap.

Bagi Hadi, desain pekarangan rumah yang dibuatnya, tidak hanya untuk keindahan dan kebutuhan manusia tetapi juga untuk kehidupan semua makhluk di dalamnya. Sebut saja burung, kadal, katak, tupai, musang, hingga ular. “Semua makhluk hidup itu akan harmonis selama keseimbangan tercipta,” lanjutnya.

Sesaat, lelaki yang senang berenang ini diam. Di sela keheningan, beberapa ekor burung terbang melompat dari satu ranting ke ranting lain di pohon rambutan simacan lombok. “Coba lihat, burung apa itu?” ucapnya tenang. Cabai jawa (Dicaeum trochileum) dan burung-madu sriganti (Nectarinia jugularis) terlihat bertengger rendah dengan santainya. Tidak lama berselang, dua ekor bondol peking (Lonchura punctulata) meluncur dari pohon kelapa ke pohon salam, sekitar tiga meter dari tempat duduk kami. “Kadang, ada burung nyasar masuk kamar saya. Maklum, jendelanya saya biarkan terbuka,” gelaknya.

Sembari menyeruput teh hijau Jepang, ia kembalimelanjutkan pembicaraan. Tanpa kami tanya, pengajar yang telah mengabdi untuk almamaternya sejak 1983 ini tahu kemana arah yang kami inginkan: kiat mengundang burung ke pekarangan.

Menurut ‘Dosen Berprestasi’ tingkat nasional 2004 ini, untuk mendatangkan burung ke pekarangan, hal yang harus dilakukan adalah menyediakan makan dan minum yang dibutuhkan burung. Bukan berarti kita harus membeli makanan dan meletakkan di kandang. Namun, lebih difokuskan pada menyediakan makanan di pekarangan melalui tanaman. Begitu juga dengan minumnya yang dapat diperoleh dari tempayan tanaman air, kolam ikan, atau cekungan daun yang menampung sisa air hujan.

Dari tanaman inilah burung dapat mengambil madu, bunga, buah, hingga serangga atau ulat. Hal terpenting adalah pekarangan tidak semata dijadikan tempat mencari makan, tetapi juga untuk bermain, kawin, dan bersarang. Bila semua terpenuhi, bukan hanya burung yang datang tetapi juga makhluk hidup lain.

Tidak ingin dianggap berteori, visiting professor pada Awaji Landscape Planning & Horticulture Academy Japan (2006), Michigan State UniversityUS (2010-2011), dan IDEC Hiroshima UniversityJapan (Maret-Juli 2012) ini membagikan pengalamannya. Kala pohon salam di pekarangannya berbunga dan berbuah, beberapa ekor tekukur rajin mengunjungi pohon tersebut. Begitu juga dengan burung-madu sriganti yang menyedot madu tanaman heliconia sembari terbang di pagi dan sore hari.

Hal menarik lain papar Hadi adalah perpaduan tanaman harendong (Melastoma malabatrichum) dan mangkokan. Biasanya, setelah memakan bunga melastoma yang ungu, burung akan menuju ke daun mangkokan yang menyimpan air karena berpermukaan cekung. “Pemandangan ini sangat indah,” terangnya.

Tanpa ragu, anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Nasional periode 2010-2014 ini memberikan kami secarik kertas bertuliskan nama jenis burung yang kerap muncul di pekarangan rumahnya. Ada merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier), cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), cinenen jawa (Orthotomus sepium), cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps), cinenen pisang (Orthotomus sutorius), burung-gereja erasia (Passer montanus), kacamata biasa (Zosterops palpebrosus), dan perenjak jawa (Prinia familiaris).

Image

Sesuai peruntukan

Bersama Nurhayati Arifin, istri tercinta, Hadi telah mendesain pekarangan rumahnya sejak 1998, setelah keduanya lulus S3 di Jepang. Menurutnya, semua tumbuhan yang ada telah disesuaikan peruntukkannya. Secara detil, ia memperhatikan tataruang pekarangan (depan, samping, belakang) terlebih dahulu sebelum menanam jenis tumbuhan yang sesuai. Begitu pula dengan pencahayaan mentari. Untuk jenis bunga yang tidak tahan panas, ditanam di tempat teduh. Sehingga, penataan pekarangan yang dibangun tidak hanya mengutamakan estetika, tetapi juga sisi fungsional.

Berdasarkan penelitiannya, penulis beberapa buku yang diantaranya “Pemeliharaan Taman” ini membagi konsep pekarangan dengan memperhatikan struktur vertikal dan horisontal, ukuran pekarangan, serta zonasi. Sebagai gambaran, pekarangan dengan struktur vertikal berisi tanaman dengan strata berlapis: dari yang rendah (rumput, herba, dan semak), sedang (perdu dan pohon kecil), hingga yang tinggi (pohon sedang-pohon tinggi seperti rambutan, kelapa, dan petai). Sementara, dari sisi horisontal, keragaman jenis tanaman dilihat dari fungsinya seperti tanaman hias, sayuran, obat, buah, penghasil bumbu, umbi-umbian dan penghasil pati, bahan baku industri, maupun tanaman lainnya seperti tanaman peneduh dan penghasil kayu bakar.

Kami sempat bertanya pada profesor serba bisa ini tentang tata guna lahan, terutama cara memaksimalkan potensi pekarangan di komplek perumahan. Keterbatasan lahan, membuat pekarangan di kawasan ini terpinggirkan.

Hadi menuturkan bahwa kondisi seperti itu tidak perlu dipermasalahkan. Banyaknya rumah justru membuat jumlah dan luas total pekarangan bertambah. Semua dapat disiasati. Pekarangan sempit dapat didesain secara vertikal yang kita kenal dengan nama vertical gardens atau  vertikultur. Artinya, tanaman bisa diletakkan dalam pot gantung (hanging garden), pot berjenjang (cascade garden), dirambatkan pada anyaman kawat/jaring nilon/turus (eco-screen) ataupun di tanam di atas atap (greenroof garden). “Penataan harus rapi agar tidak padat dan sumpek” tuturnya.

Image

Kecintaan Hadi terhadap tanaman, satwa liar, dan lingkungan sekitar telah mengantarnya menjadi desainer pekarangan sejati. Cinta tulus yang telah ditekuninya sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Sampai di sini, kami masih belum puas menyerap ilmunya.*

Foto: Aip Abbas

Tautan: http://hsarifin.staff.ipb.ac.id/?s=majalah+burung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s