Sejenak Bersama Johan Iskandar

Prof. Johan Iskandar, MSc., PhD

Bicara masalah burung perkotaan, profesor kawakan ini jagonya. Menurutnya, bila di kota masih dijumpai banyak burung itu pertanda bahwa wilayah tersebut memiliki kualitas lingkungan hidup yang baik. Benarkah?

Image

Foto: Dok. Burung Indonesia

Johan Iskandar bukanlah pendatang baru dalam dunia perburungan. Sejak tahun 1980, ia sudah malang melintang dalam penelitian burung yang tidak hanya memfokuskan pada ekologi tetapi juga perdagangan. Pengalamannya yang segudang membuatnya dijadikan rujukan shahih bagi siapa saja yang ingin mendalami perihal burung.

Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris), cekakak sungai (Halcyon chloris), dan raja-udang biru (Alcedo coerulescens) merupakan jenis burung yang pakannya organisme hidup di air. Bila perairan tempat mencari makannya tercemar maka burung tersebut enggan datang. “Perlahan dan pasti, mereka akan terbang mencari tempat yang baru” ungkap Guru Besar Etnobiologi Universitas Padjadjaran (Unpad) ini mengawali pembicaraan.

Indikasi alami lain adalah bila jenis elang dan alap masih mudah ditemukan di perkotaan itu menunjukkan bahwa pencemaran lingkungan masih relatif aman. Mengingat, burung yang dalam rantai makanan bertugas sebagai top predator tersebut paling rentan terhadap racun yang berasal dari pestisida atau limbah industri.

Karena  itu, ungkap Johan, agar burung betah di perkotaan diperlukan ragam habitat burung. Contohnya taman pepohonan, taman rumput-rumputan, kolam, juga sungai yang sifatnya mengundang berbagai jenis burung untuk menempati habitat tersebut. Untuk taman pepohonan, sebaiknya didisain dengan aneka tanaman tajuk berlapis seperti rumput, semak-belukar, herba, pepohonan tinggi dan sedang, serta pepohonan tinggi dan menjulang.

Alasan logisnya adalah ada hubungan positif antara keragaman lapisan tajuk dengan aneka jenis burung. Pada taman dengan disain vegetasi berlapis biasanya akan dihuni aneka jenis burung ketimbang taman dengan struktur biasa. Meski strukturnya kompleks, namun sangat memungkinkan bagi burung yang biasa hidup di permukaan tanah, semak belukar, pepohonan dan puncak pohon tinggi untuk hidup.

Jenis-jenis tanaman pengisi taman sebaiknya juga disusun oleh jenis buah-buahan, tanaman bunga, dan palem seperti kersen, huni, salam, beringin, bunga sepatu, dan pohon pinang. Hal ini penting sebagai sumber pakan bagi burung pemakan buah dan penghisap madu serta burung yang senang bersarang di pohon palem.

Hal lain? Menurut lelaki kelahiran Purwakarta ini faktor lain yang harus diperhatikan adalah warga kotanya sendiri yang harus bisa hidup berdampingan dengan burung. ”Percuma, bila habitat burung dirawat namun burung-burung yang berada di tengah kolam, di atas rerumputan, atau yang bertengger di pepohonan masih diburu” jelasnya.

Keberadaan burung di perkotaan memang tidak hanya berfungsi sebagai indikator alami lingkungan tetapi juga memberi manfaat ekologis dan sosial budaya. Secara ekologis, burung membantu penyerbukan tanaman, menebar biji, hingga mengendalikan ulat. Yang lebih canggih adalah burung berperan sebagai agen perubahan lingkungan secara dini, misalnya pencemaran atau rusaknya vegetasi.

Sedangkan fungsi sosial budayanya adalah tingkah laku burung yang menarik dan suaranya yang merdu menjadi penenteram suasana kota. Pada konteks ini burung dapat dijadikan objek penelitian mulai dari jenisnya, tingkah lakunya, hingga persebarannya.

Cinta sejak kecil

Kecintaan pria yang hobi menjelajah alam dan mendaki gunung ini pada burung sudah terlihat sejak kecil. Hanya saja, sebagaimana anak kecil umumnya, wujud sayangnya itu diterjemahkan lewat memelihara burung dalam sangkar. Ini dilakukan Johan kecil karena belum memiliki pengetahuan bijak bagaimana cara mencintai burung yang benar.

Foto: Dok. Burung Indonesia

Foto: Dok. Burung Indonesia

Kepeduliannya terhadap burung liar meningkat ketika kuliah di Jurusan Biologi Unpad dan bergabung di HIMBIO (HimpunanMahasiswa Biologi). Kegiatan yang disenanginya adalah pengamatan dan pendokumentasian foto burung. Dari sini, ia baru mengerti bila kebiasaan lamanya memelihara burung kurang tepat.

Johan juga aktif dalam penelitian ekologi burung di pedesaan, khususnya Daerah Aliran Sungai Citarum, sungai terpanjang di Jawa Barat. Ia pun rajin mengikuti seminar dan pelatihan. Salah satunya adalah training “Bird Ecology and Ornithology” di Nature Conservation Department, Agricultural University tahun 1982-1983. “Sembilan bulan saya dibimbing Dr.W. Bongers dan Prof. Dr.C.W. Stortenbeker” kenangnya.

Seakan rendezvous, Kepala Laboratorium Biologi Lingkungan ini membuka kembali memorinya akan burung Citarum. Tak lupa ia kritisi nasibnya dengan burung kota. Menurutnya, dahulu aneka burung seperti pipit benggala (Amandava amandava), bondol oto-hitam (Lonchura ferruginosa), dan bondol-hijau binglis (Erythrura prasina) yang bergerombol dalam jumlah banyak sering mendatangi padi yang menguning.

Keluarga jalak seperti jalak suren (Sturnus contra) dan kerak kerbau (Acridotheres javanicus) juga mudah ditemukan di sekitar sawah. Burung tersebut terlihat mencari makan, mendekati petani yang sedang mencangkul, atau hinggap di punggung kerbau. Inilah sebabnya mengapa Acridotheres javanicus dinamai kerak kerbau oleh penduduk lokal.

Begitu halnya blekok sawah (Ardeola speciosa), dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis) yang sering bergerombol. Biasanya mereka mencari ikan, katak, belut, belalang, dan serangga di berbagai habitat berair seperti sawah, rawa, danau, dan sungai. Khusus Bubulcus ibis, ia gemar mencari serangga hama padi dan serangga di punggung kerbau. Karena kebiasaannya menaiki punggung kerbau, penduduk lokal menggelarinya kuntul kerbau.

Tidak hanya itu, burung pemangsa seperti elang-ular bido (Spilornis cheela) sering muncul. Famili Accipitridae ini begitu perkasa kala menyambar anak ayam sembari mengeluarkan suara khasnya yang keras. ”Kalau sudah begini, si pemilik ayam sewot jadinya” gelak Johan.

Namun, keceriaan Johan mendadak sirna tatkala menceritakan kondisi burung di Ciliwung saat ini. Sekarang, burung yang yang sering terlihat hanyalah bondol jawa (Lonchura leucogastroides), bondol peking (Lonchura punctulata), cabai jawa (Dicaeum trochileum), cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps), cinenen pisang (Orthotomus sutorius), cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), cici padi (Cisticola juncidis), dan walet linchi (Collocalia linchi). ”Selebihnya, terbang menghilang” ucap suami Budiawati Supangkat lirih.

Mari berbuat

Keberadaan burung sudah layaknya diperhatikan. Menurut Johan, membiarkan burung hidup di alam bebas tanpa mengganggu habitatnya merupakan hal yang patut dilakukan. Kalaupun ada pemanfaatan untuk pemeliharaan, semua itu harus ada kontrol yang jelas.

Tak ingin dianggap berwacana, penyuka ikan pepes mas ini memberi contoh nyata kepeduliannya akan burung di perkotaan. Pekarangan rumahnya yang kecil di Cipadung Permai, Bandung,  ia disain sedemikian rupa agar berfungsi sebagai habitat burung. Tanaman buah dan pepohonan yang rindang dipilih sebagai penghias utama. Jenis burung-gereja erasia (Passer montanus), burung-madu sriganti (Nectarinia jugularis), hingga serak jawa (Tyto alba) tentunya senang bukan kepalang dengan pohon tersebut. Bahkan, setiap tahunnya pipit benggala dan bondol peking bersarang hingga berbiak di pohon mangga di pekarangan rumahnya itu.

Foto: Rahmadi

Foto: Rahmadi

Ayah tiga anak ini pun menuturkan bahwa pekarangan hijau yang menyediakan habitat alami bagi burung merupakan bentengnya burung-burung perkotaan. Kehadiran burung tersebut dapat diundang dengan cara menanami pekarangan dengan pohon rimbun yang membentuk vegetasi berlapis. Dan bila pekarangannya luas, dapat disediakan pula tempat makan burung di meja, rumah-rumahan kecil, ataupun di ruas bambu atau tempurung kelapa yang digantungkan di cabang pohon. Dekorasinya tentu saja disesuaikan dengan keindahan pekarangan.

Di penghujung pembicaraan, dosen biologi dan pascasarjana ini berpesan kepada masyarakat Indonesia agar lebih mencintai burung liar di alam. “Burung banyak memberi manfaat bagi manusia. Mari berbuat sesuatu demi kelestariannya” pungkas Johan meyakinkan.*

Tautan: http://www.burung.org/Artikel/agar-burung-betah-di-kota.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s