Hutan dan Restorasi:

Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA

Berapa besarkah manfaat sumber daya hutan Indonesia ditinjau dari sisi ekonomis? Tanyakan saja pada Profesor Dudung Darusman. Secara santun dan bijak, Guru Besar Tetap Institut Pertanian Bogor (IPB) ini akan memaparkan betapa bernilainya hutan Indonesia. Menurutnya, bila seluruh potensi yang ada di hutan dikelola dengan baik, niscaya dapat menyejahterakan seluruh masyarakat Indonesia. Bukan segelintir pihak.

IMG_3164-1Dudung kecil tidak pernah bercita-cita jadi orang hebat, apalagi pejabat. Mimpi besarnya adalah berkarir sebagai petani padi dan kelapa. Sebuah obsesi mengikuti rekam jejak sang kakek yang hidup damai dalam baluran nuansa pedesaan.

Ciamis, tempat kelahirannya 61 tahun silam, berada tidak jauh dari rimba raya. Namun, tiada sedikit pun menggugah perhatiannya. Pandangan tidak tertulis di kalangan masyarakat yang menyebut bahwa hutan adalah leuweung, kawasan yang tidak perlu diurus, merupakan argumen yang diamini bersama.

Padahal, ketika menuju Sekolah Rakyat (SR) Cieurih, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Dudung harus menelusuri jalan setapak pinggiran hutan kaki Gunung Sawal. Lumayan, sekitar 30 menit. Tak jarang, langkah pendeknya tertinggal jauh teman-temannya karena memerhatikan pepohonan besar dan kicau burung.

Dudung segera sprint, bagai atlet. Ketakutannya bukan karena harus berjalan sendiri, melainkan ngeri bila tertangkap “makhluk penunggu”. Kala itu, mitos yang sering didengarnya adalah hutan merupakan wilayah angker tempat berkumpulnya dedemit alias bangsa jin. Meski terengah, ia ceritakan kembali pada rekan seperjalanannya perihal pemandangan hijau, belukar, dan satwa. Paling sering, ia mengurai pertemuannya dengan si burung betet (Psittacula alexandrii). Kombinasi warna bulu hijau-merah jambu yang indahdan suara “berisik” merupakan alasan sempurna yang ia utarakan. “Betet membawa kesegaran alami. Sampai-sampai saya merengek pada kakek agar dibelikan tustel (kamera foto) untuk mengabadikannya” kenang lelaki kacamata ini malu.

Pun, saat melanjutkan sekolah ke SMP 1 Ciamis yang berjarak 17 km dari rumahnya. Ia masih harus menyisir tepian hutan sejauh 5 km sebelum naik oplet (angkutan umum). Meski belum tahu apa saja ”isi” hutan, kepolosannya mengatakan hutan berfungsi sebagai penata air dan tempat hidupnya flora-fauna.

Mengalir bak air

Lazimnya siswa tamatan SMA, Dudung sempat gelisah saat berhadapan dua pilihan: melanjutkan sekolah atau pulang kampung. Atas saran Pak Daman, Kepala Sekolah SMA Ciamis, ia membulatkan tekad ingin menjadi mahasiswa.

P1140558-1Pak Daman bukan asal ucap. Ia ingat dan tahu persis bila murid kesayangannya yang menonjol itu memiliki potensi untuk dikembangkan. Jejaknya sudah terlihat saat masuk SMP dan SMA. Dudung tidak pernah registrasi langsung di dua sekolah tersebut. Ia duduk manis di rumah. Pekerjaan mendaftar dilakukan oleh sang Kepala Sekolah sebagai bentuk penghargaan atas prestasinya.

Kesungguhan Dudung membuahkan hasil. Saat teman seangkatannya berjibaku masuk perguruan tinggi, ia malah bingung memilih. Namanya terpampang di pengumuman penerimaan dua universitas negeri terkemuka di Bandung; jurusan geodesi dan kedokteran, plus satu universitas ternama di Bogor; jurusan kehutanan. Akhirnya, kehutanan diputuskan sebagai prioritas pertama. Itu pun setelah melalui pertimbangan sengit, terutama aspek finansial. “Hidup itu bagai air, ikuti saja alirannya” saran suami Profesor Latifah K. Darusman.

Seperti berjodoh. Nilai kumulatif yang tinggi, membuat ia dipercaya sebagai asisten dosen sejak semester delapan dan mendapat tawaran bekerja di luar begitu lulus sarjana. Namun, pria penggemar masakan khas setiap daerah ini lebih memilih sebagai “abdi dalem” almamaternya. Pinangan langsung dari Dekan Fakultas Kehutanan yang memintanya menjadi dosen, merupakan berita gembira yang tak kuasa ia tolak.

 “Jadi, minat saya pada hutan timbul setelah masuk kehutanan tadi” paparnya lagi.

Hutan Indonesia

Kini, bagaimana pandangan dan analisis Pak Dudung sebagai pakar ekonomi sumber daya hutan? Staf Ahli Menteri Kehutanan dan Perkebunan bidang Sosial Ekonomi tahun 1999 ini berperspektif bahwa hutan merupakan anugerah Tuhan yang tidak perlu “diapa-apakan” lagi. Asalkan tidak serakah mengelola, terus-menerus hutan akan memberi manfaat pada manusia.

Semua hutan di Indonesia unik dan menarik. Tidak ada yang monoton. Sumatera, Kalimantan, Papua, dan Wallacea merupakan kawasan menakjubkan yang memiliki ciri khas tersendiri. Potensinya tidak hanya bergantung pada flora dan fauna tetapi juga pada mikroba dan bentang lansekap yang menyajikan keindahan luar biasa. “Dari kajian ekonomi sumber daya hutan, sepatutnya kekayaan tersebut membuat bangsa Indonesia tidak perlu ngemis utang luar negeri” jelas Ketua Senat Civitas Akademika IPB ini.

Fakta di lapangan sungguh berbeda. Data Ditjen Planologi Kehutanan 2008 menunjukkan laju deforestasi (periode 2003-2006) sebesar 1,17 juta hektar per tahun yang 64,8% nya terjadi di kawasan hutan membuat hutan Indonesia rusak parah. Orientasi usang yang mengambil kayu sebagai komoditas tunggal merupakan penyebab utama.

Hutan hujan tropika alam di luar Jawa yang semula rusak karena ulah HPH makin hancur akibat dikonversi menjadi areal kebun sawit dan tambang batu bara. Hal yang tidak jauh berbeda dengan hutan mangrove di sepanjang pantai Sumatera, Kalimantan, dan Jawa yang digerus untuk lahan pertambakan. Kondisi ini, selain merusak tatanan ekosistem, membuat habitat jenis satwa yang ada seperti burung air tergusur.

IMG_1453-1

Solusi

Bila ditilik ke belakang, ada background historis mengapa bangsa Indonesia masih “rajin” menggunduli hutan. Dahulu, untuk membangun sawah, rumah, dan jalan dipercayakan kepada mereka yang berani membuka hutan. Istilahnya sing mbabat alas. Tanpa sadar, persepsi klasik yang tidak populis bahkan keliru itu, berkembang dan berujung pada kebiasaan penebangan tanpa batas. Faktor kelestarian dilupakan.

Menurut peraih Doktor dari Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan ini, harapan untuk membangun kembali hutan alam Indonesia harus ditanamkan. Rasa optimis harus dikedepankan mengingatkondisi habitat atau tempat tumbuh pohon di hutan tidak berubah dari dulu hingga kini. Kondisi tanah, air, dan iklim Indonesia masih bagus dan produktif sebagaimana aslinya. “Tinggal kemauan saja, ya atau tidak” paparnya.

Restorasi ekosistem merupakan solusi pemulihan hutan alam produksi Indonesia. Melalui restorasi ekosistem, upaya pengembalian unsur hayati (flora dan fauna) dan nonhayati (tanah, iklim, tofograpi) suatu kawasan kepada jenis aslinya berikut keseimbangan hayati dan ekosistemnya akan tercapai.

Dari segi konsep maupun sisi praktis, model pengelolaan hutan ini terlihat lebih sempurna ketimbang HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Bila HPH hanya terfokus pada satu jenis hasil (kayu), restorasi sebaliknya mengurus banyak jenis hasil. Meski hasil yang diperoleh dari banyak jenis ini kecil, akan tetapi bila dikalikan dengan banyaknya jumlah jenis hasil yang ada jauh lebih besar ketimbang satu jenis (besar) saja. “Mengurusi banyak hasil akan membuat banyak pihak terlibat, masyarakat dapat mengambil manfaat” papar mantan Dekan Fakultas Kehutanan dua periode ini.

Memang, restorasi menunda jadwal pemanenan. Namun, segi positifnya adalah hutan kembali pulih yang secara ekosistem dicirikan dengan normalnya unsur-unsur keragaman hayati. Bukan hanya tegakan kayu yang membaik (jenis ataupun volume) tetapi juga jumlah flora dan fauna yang bertambah serta siklus hara dan makanan terwujud kembali.

Sisi ekonomisnya, restorasi ekosistem yang berorientasi jangka panjang akan meningkatkan produktifitas hutan dan pelestarian keragaman hayati. Selain itu, nilai ekonomi sumber daya hutan untuk kesejahteraan masyarakat akan bertambah.

“Coba kita lihat Tennessee Valley Authority (TVA)” tutur pria penggemar majalah ilmiah ini. Sebuah proyek pelestarian lingkungan sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Tennessee tahun 1930-1970 yang berhasil mereboisasi hutan rusak dan lahan kritis terlantar.

Proyek yang berjalan saat resesi ini tidak bekerja sendiri. Selain membentuk korporasi dengan lembaga swadaya masyarakat dalam pelaksanaan program sosial-ekonomi, Tennessee Valley juga mendapat dukungan Kongres Amerika.

Sebanyak dua setengah juta pekerja direkrut. Satuan tugas bernama Biro Penanggulangan Kerja Konservasi (Emergency Conservation Work Agency) yang berganti menjadi Civilian Conservation Corps (CCC) dibentuk. Tugasnya hanya satu: mengawasi pelaksanaan pembangunan berwawasan lingkungan yang berlaku di semua negara bagian.

Setelah 40 tahun berjalan, hasilnya adalah ribuan hektar lahan kritis terlantar di hilir sungai berubah menjadi hamparan pertanian subur. Wilayah hulu yang dulunya gundul disulap sebagai kawasan hutan konservasi air dan pariwisata. Sedangkan wilayah tengah diplot untuk pusat tanaman tahunan dan tempat pengembalaan ternak.

“Sekarang kita terbang ke Jepang” ajaknya lagi. Setelah Perang Dunia II, negeri Sakura ini hanya memiliki hutan sekitar 20 persen dari luas daratan. Mereka mengeksploitasi kayu untuk kebutuhan bahan bakar, mesin uap dan sebagainya. Kini, luasan hutannya mencapai 70 persen dari daratan.

P1140076-1Apakah maksud semua ini? Sang dosen senior ingin mengatakan bahwa restorasi ekosistem dapat menjadi konsep mendunia. Bila Amerika dan Jepang telah melakukan pemulihan hutan lebih dahulu tanpa menyebut nama “restorasi ekosistem” maka negara seperti India, Afrika, atau Amerika Latin dapat mengadopsinya.

Restorasi tidak merugikan perekonomian apalagi menghentikan. Hanya menunda. Filosofi berpikirnya adalah bila selama ini kayu sebagai primadona, melalui restorasi ekosistem banyak jenis manfaat yang bisa dipetik. Mulai dari tanaman biofarmaka (obat) dan bioenergi, penyerap karbon, ekowisata dan ilmu pengetahuan, hingga jasa lingkungan. Hasil kayunya juga dapat dimanfaatkan berbarengan dengan komoditas hasil hutan bukan kayu (non-timber forest products) seperti madu, jernang, rotan, bambu, getah, dan buah-buahan.

Sebagai model pemanfaatan hasil hutan relatif baru, wajar bila ada persepsi IUPHHK-RE sama halnya dengan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Alam (IUPHHK-HA) atau HPH. Jika dirunut, sudah pasti keduanya memiliki perbedaan mendasar, sebut saja proses pengajuan permohonan izin, intervensi pengelolaan, maupun pencapaian tujuan dalam pembangunan hutan alam produksi.

Pemerintah harus selektif dalam hal Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE). Jangan memberi pada pihak yang kamuflase. “Ini kuncinya” tegas ahli ekonomi pembangunan kehutanan di ujung pembicaraan.*

Foto: Rahmadi

Tautan: Majalah Burung (http://www.burung.org/category/2.html)

2 thoughts on “Hutan dan Restorasi:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s