Burung-Burung Terancam Punah di Lahan Basah

Indonesia dapat dikatakan sebagai negerinya lahan basah. Diperkirakan, luas lahan basah negeri kita ini 20 persen dari luas daratannya yaitu sekitar 40 juta hektar.

Image

Foto: Asep Ayat

Kehadiran jenis-jenis burung air di lahan basah merupakan pertanda alami bahwa kualitas lingkungan tersebut memanglah baik. Namun, berkurangnya luasan lahan basah membuat kehidupan burung-burung air ini menderita.

Profesor Johan Iskandar, Guru Besar Etnobiologi Universitas Padjadjaran (Unpad), menuturkan bahwa hadirnya jenis-jenis burung di berbagai tipe lahan basah berhubungan erat dengan aneka pakan di lahan tersebut. Misalnya, lahan basah padang lumpur (mud flat) di kawasan pantai merupakan habitat favorit jenis burung air penetap maupun migran kala mencari pakan. Sedimen lumpur ini, selain kaya akan unsur hara juga tempat berkumpulnya ragam organisme yang merupakan pakan utama burung air. Sebut saja, jenis-jenis moluska (keong, kerang), krustasea (kepiting, udang), juga jenis-jenis cacing dan ikan. “Berkumpulnya burung air di suatu habitat, menunjukkan daerah tersebut kaya akan organisme serta kualitas lingkungannya relatif baik karena tidak ada pencemaran” papar Johan.   

Namun, hidup burung air ini makin terdesak akibat berkurangnya luasan lahan basah. Jenis burung terancam punah seperti bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), bangau bluwok (Mycteria cinerea), dan bangau storm (Ciconia stormi) merupakan jenis bangau yang hidupnya terancam di lahan basah.

Bangau bluwok, misalnya. Burung berparuh kekuningan yang menyenangi daerah berlumpur dan berawa ini statusnya semula Rentan (Vulnerable/VU). Namun, status bangau bluwok ini meningkat menjadi Genting (Endangered/EN). Menyusutnya lahan basah dan perburuan turut membuat populasi globalnya berkurang yang saat ini diperkirakan kurang dari 1.500 ekor.

Begitu juga dengan nasib bangau storm. Burung air berukuran sekitar 80 cm ini hidupnya memang di lahan basah dan persebarannya hanya ada di Kalimantan dan Sumatera. Di Pulau Jawa, keberadaannya pernah tercatat sekali di Jawa Barat tahun 1920. Spesimen bangau tersebut kemudian disimpan di Museum Zoologi Bogor.Badan Konservasi Dunia IUCN (International Union for Conservation of Nature) memasukkannya dalam status Genting (Endangered/EN). Sementara, berdasarkan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, jenis ini belum termasuk yang dilindungi. Jumlahnya saat ini diperkirakan antara 260-330 individu dewasa.

Jenis burung yang nasibnya juga mengkhawatirkan adalah trulek jawa (Vanellus macropterus). Burung endemik Jawa ini (hanya ada di Jawa) berukuran 28 cm yang bercirikan paruh hitam dengan gelambir putih kemerahan. Trulek jawa terakhir kali terlihat tahun 1939 di Pantai Melemen, pesisir selatan Jawa dan hingga kini masih terus dicari keberadaannya. Perburuan dan hilangnya habitat alami merupakan ancaman utama yang dihadapi burung berstatus Kritis (Critically Endangered/CR) ini. Pemerintah telah menetapkannya sebagai jenis yang dilindungi sejak 1978. Populasinyadiperkirakan kurang dari 50 individu dewasa.

Hal senada juga dengan bubut jawa (Centropus nigrorufus) yang jumlahnya kian berkurang. Berdasarkan data BirdLife International,populasinya berkisar 2.500 hingga 10.000 ekor (individu dewasa). Wilayah persebarannya hanya ada di Ujung Kulon, Karawang, Indramayu, Segara Anakan, Muara Brantas, Suaka Margasatwa Muara Angke, dan Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Status burung berukuran 46 cm ini adalah Rentan (Vulnerable/VU).

Menurut Johan, keberadaan burung air di lahan basah memang harus diperhatikan. Karena, selain memiliki fungsi sebagai indikator alami kualitas lingkungan, burung air juga berperan menjaga keseimbangan alam dalam rantai makanan, indikator perubahan musim, serta objek penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Luasan terus berkurang

Sejarah pemanfaatan dan pengelolaan lahan basah di Indonesia sudah dimulai sejak lama. Contohnya yang telah dilakukan oleh suku Jawa dan Bali dengan melakukan pembudidayaan padi di sawah. Budidaya padi dengan cara khas itu diperkirakan telah berlangsung sejak enam ribu tahun lalu. Begitu juga dengan suku Bugis yang berhasil mengolah rawa pasang surut untuk ditanam padi. Sementara, pengelolaan lahan basah secara meluas terjadi pada masa penjajahan Belanda, yaitu dengan diperkenalkannya sistem irigasi, pembangunan dam, kanal, serta saluran air sebagai pengendali banjir.

Namun, kini luasan lahan basah di Indonesia berkurang akibat alih fungsi menjadi daerah permukiman, industri, atau juga pertanian. Ini menunjukkan bahwa lahan basah masih dianggap sebagai lahan yang kurang bermanfaat, tidak produktif, dan ada juga anggapan bahwa lahan basah sebagai sumber penyakit malaria. Pemaknaan ini sebagaimana yang berkembang di kalangan masyarakat. Kata wetland yang artinya lahan basah dijadikan wasteland yang berarti lahan tidak berguna.

Padahal, lahan basah penting dalam hal menyaring air tanah, menghasilkan energi, hingga mengendalikan banjir. Banjir yang terjadi di daerah kita salah satunya diakibatkan dari terganggunya keberadaan lahan basah baik fungsi maupun luasannya.      

Saat ini, Indonesia telah memiliki enam Ramsar Site (Situs Ramsar) yaitu kawasan penting yang ditetapkan guna melindungi kelestarian dan fungsi lahan basah di dunia. Daerah tersebut adalah Taman Nasional Berbak (Jambi), Taman Nasional Sembilang (Sumatera Selatan), Suaka Margasatwa Pulau Rambut (DKI Jakarta), Tamam Nasional Rawa Aopa Watumohai (Sulawesi Tenggara), Taman Nasional Danau Sentarum (Kalimantan Barat), dan Taman Nasional Wasur (Papua). 

Tentu saja, bila kita bandingkan luasan Situs Ramsar dengan luasan lahan basah yang ada di Indonesia tidaklah sebanding. Sebagai gambaran, dari 40 juta hektar lahan basah yang ada sekitar 16 juta hektarnya berada di kawasan konservasi. Dari 16 juta hektar ini, sekitar lima juta hektarnya baru tercakup di enam Situs Ramsar yang kita miliki.

Itulah mengapa, kepedulian kita terhadap lahan basah yang diperingati setiap 2 Februari mutlak diperlukan.**

Rahmadi, Media and Communication Burung Indonesia

 * Harian Umum Pikiran Rakyat, 30 Januari 2014. Rubrikasi Cakrawala Halaman 21. http://epaper.pikiran-rakyat.com/indeks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s