Arti Penting Sebuah Pohon

Pohon merupakan potensi jangka panjang yang harus dijaga.

ImagePohon juga memiliki nilai keindahan dan sisi ekonomis. Sebuah pohon kamper di Dexing, Cina, yang diperkirakan berusia 1.800 tahun dengan tinggi 23 meter dan bisa dilingkari 18 orang bergandeng tangan, mampu meneduhkan kawasan lebih dari 1.000 meter persegi. Sementara, Kota Melbourne, Australia, telah memiliki Victoria’s Hetitage Act (1995) yang berisikan perlindungan pohon-pohon langka atau yang berusia ratusan tahun beserta standar pengelolaannya. 

Sebatang pohon yang tumbuh juga diperkirakan dapat mengikat 10 hingga 15 kg karbon dioksida. Diperkirakan, dalam satu hektarnya bisa menyerap sekitar 10 ton karbon dioksida yang disemburkan ke atmosfer melalui asap kendaraan dan pabrik industri setiap tahunnya.  

Pohon juga tidak hanya bermanfaat bagi manusia, tetapi juga sangat berarti bagi kehidupan berbagai jenis burung. Di sebuah pohon, burung tidak hanya beristirahat, tetapi juga menjadikan pohon tersebut sebagai sumber makanan, bersarang, dan membesarkan keturunan. Kakatua sumba (Cacatua sulphurea citrinocristata) misalnya, yang hanya dapat ditemui di Pulau Sumba.  

             Di Sumba, burung berciri jambul berwarna oranye ini menggantungkan hidupnya di hutan primer dan sekunder. Meskipun, secara berkala mengunjungi lahan budidaya yang pohonnya jarang untuk mencari sumber makanan alternatif.

Jenis pohon yang sangat disukainya sebagai sarang adalah pohon nggoka (Chisocheton sp.) dan marra (Tetrameles nudiflora). Selain kedua jenis pohon ini dapat tumbuh besar dan menjulang, kandungan airnya juga tidak terlalu tinggi. Sehingga, sangat cocok bagi sang betina untuk bersarang (di lubang pohon) dan mengerami telurnya. Salah satu sarang aktifnya yang berhasil diidentifikasi berada di lereng bukit Lakokur, Desa Umamanu, Kecamatan Katikutana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah.                                                                                                                                                                                                            

Namun, berkurangnya pohon sarang di hutan alam telah membuat burung lambang persatuan masyarakat Sumba ini mengalami kendala dalam hal berkembang biak. Jumlah telur yang dihasilkan saat berbiak antara dua hingga tiga butir, sangat bergantung pada cuaca dan pohon sarang karena berkaitan erat dengan kesuksesan penetasannya. Selain itu, kakatua sumba juga harus menghadapi persaingan penggunaan pohon sarang dengan jenis paruh bengkok lain seperti nuri bayan (Eclectus roratus) dan betet-kelapa paruh-besar (Tanygnathus megalorynchos).

Sekitar tahun 70-an, kakatua sumba masih mudah dijumpai. Kini, jumlah populasi burung yang merupakan anak jenis endemik Pulau Sumba ini sekitar 500 an ekor. Jumlahnya terus menurun seiring semakin sedikitnya pohon sarang serta akibat penangkapan dan perdagangan untuk dijual ke pasar dalam maupun luar negeri.

Jadi, jangan anggap enteng sebuah pohon!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s