Elang Flores yang Terancam Punah

Sejak ditetapkan sebagai jenis tersendiri, status elang flores mengkhawatirkan. Saat ini total populasi burung anggota famili Accipitridae itu diperkirakan hanya 100–240 ekor. Oleh karena itu Badan Konservasi Dunia (IUCN International Union for Conservation of Nature) menetapkannya sebagai jenis kritis karena kecenderungan populasinya yang terus menurun.

Elang flores. Foto: Burung Indonesia/Feri Irawan

Elang flores. Foto: Burung Indonesia/Feri Irawan

Ahli burung dari Universitas Padjadajaran, Prof Dr Djohan Iskandar mengatakan, merosotnya populasi elang flores kemungkinan karena habitat alaminya yang terganggu. Penyusutan luas tutupan hutan serta perburuan dan perdagangan ilegal turut memicu turunnya populasi elang itu. Artinya elang flores tinggal selangkah lagi menuju kepunahan. “Sejatinya jenis itu telah dilindungi oleh pemerintah melalui PP No.7/1999. Namun, dugaan saya masih ada perburuan liar untuk perdagangan atau klangenan,” tutur Dr. Dewi Malia Prawiradilaga, ahli elang dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sayangnya, menurut Dewi masih belum ada penelitian tentang elang flores. Laporan terbaru terkait jenis itu didapat dari pengamatan Peter Collaerts serta para peneliti dari Belgia dan Australia yang tengah mengamati elang flores di Alor. Berdasar laporan mereka, sebaran elang flores rupanya mencapai pulau kecil di timur Flores itu. Hasil pengamatan tim peneliti Belgia dan Australia itu menunjukkan, elang flores di Alor menghuni fragmen-fragmen hutan tropis yang berbatasan dengan perkebunan Eucalyptus sp dan tanaman produksi lain.

Habitat semacam itu kurang produktif untuk berburu mangsa sehingga elang flores di Alor diduga memiliki daerah jelajah luas dan kepadatan populasi rendah. Para peneliti itu memperkirakan populasi kecil elang flores kemungkinan juga dapat ditemukan di pulau-pulau yang menghubungkan Flores dan Alor yaitu Solor, Adonara, Lembata, dan Pantar. Dewi menuturkan pentingnya pelestarian jenis itu misalnya melalui pemantauan jangka panjang pada kantong-kantong populasi yang banyak ancamannya.

Terlebih elang flores di Alor, Mbeliling, dan lokasi lain, hidup bersama jenis-jenis keragaman hayati lain baik yang terancam punah maupun tidak. Di Alor, misalnya, burung itu “bertetangga” dengan kakaktua-kecil jambul kuning Cacatua sulphurea yang juga berstatus kritis. Oleh karena itu, jika elang flores dan habitatnya terselamatkan, harapannya jenis-jenis keragaman hayati lain juga turut lestari.*

(Rahmadi dan Feri Irawan, pegiat di Burung Indonesia)

* Majalah Trubus edisi Mei 2014 (Halaman 112-117)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s