Garuda Dari Golodewa

Sinar mentari menembus celah kabut yang masih menggelayut di Perkampungan Ranggawatu, Desa Golodesat, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Fernandus Jawa mengendari mobil bergardan dua menyusuri trans Flores yang berkelok-kelok. Saat memasuki Desa Golodamu, Bas van Ballen mendadak meminta agar Fernandus mengurangi kecepatan mobil. Fernandus lantas menepikan mobil. Bas van Ballen bergegas mengeluarkan binokuler dari dalam tas ranselnya. “Coba lihat di depan sana. Seekor elang besar sedang bertengger,” kata ahli burung asal Belanda yang sudah tersohor di dunia itu.

Sosok elang yang ditunjuk Bas tampak gagah. Kakinya kokoh mencengkeram cabang pohon matoa Pometia pinnata yang hampir mati. Dadanya putih membusung. Sorot matanya tajam, penuh kewaspadaan. Perlahan kami mengendap-endap agar tidak mengusik keberadaannya yang bertengger sekitar 200 meter di hadapan kami. Begitu dekat, akhirnya Bas yakin bahwa sosok kharismatik itu memang elang flores Nisaetus floris yang kian langka.

Elang flores - Burung Indonesia-Samuel Rabenak

Elang flores. Foto: Burung Indonesia/Samuel Rabenak

“Jenis ini memang elang flores,” tutur penulis buku “Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan” yang menjadi buku rujukan para pengamat burung itu. Ucapan pria yang 35 tahun mengamati burung di Indonesia itu membuat kami bersemangat mengamati gerak-gerik elang setinggi pinggang orang dewasa itu. Bagi kami, itulah kali pertama menjumpai elang flores yang berhabitat di hutan dataran rendah dan submontana hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Ia gemar berburu dari tempatnya bertengger lalu terbang mengangkasa dengan memanfaatkan aliran udara panas–biasa disebut thermal soaring.

Status burung yang berbulu putih itu juga menarik. Pada 2004 para ahli burung menelaah genetika, morfologi, pola persebaran dan survei lapangan untuk mengevaluasi keberadaan anak jenis elang brontok Nisaetus cirrhatus. Wilayah yang diteliti mencakup India, Srilanka, Kepulauan Andaman, Filipina, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Para ahli berkesimpulan, Nisaetus cirrhatus floris anak jenis elang brontok yang hidup di Nusa Tenggara (Flores dan sekitarnya), memiliki karakter morfologi yang berbeda.

Akhirnya, para ahli menetapkan jenis itu sebagai spesies yang berbeda dan kini dikenal sebagai elang flores. Dunia mengakui bahwa Nisaetus floris merupakan jenis yang hanya hidup alias endemik di Nusa Tenggara. Selain di Flores, anggota suku Accipitridae itu juga hidup di Pulau Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, hingga Satonda (dekat Sumbawa), serta Pulau Rinca (dekat Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur). Samuel Rabenak, anggota staf Burung Indonesia Program Mbeliling, menuturkan bahwa berdasarkan penelusurannya selama empat tahun, elang flores jarang dijumpai.

Pada 2009, misalnya, Samuel menemani Mickhael Sackhelfor, pengamat burung asal Texas, Amerika Serikat. Selama lima hari mereka mencari keberadaan elang bersayap cokelat itu. Sayang, hasilnya nihil. Padahal mereka “bergerilya” menyusuri berbagai lokasi hutan di Manggarai Barat misalnya hutan Mbeliling hingga Ruteng, Gololusang, Pocoranaka, dan Ranamese di Manggarai Timur. Namun, tanpa diduga Samuel melihat elang flores kala melakukan pengamatan di Puarlolo, Mbeliling, pada pengujung 2011.

Hutan di kawasan itu merupakan habitat berbagai jenis burung seperti kehicap flores Monarcha sacerdotum, satu dari empat jenis burung endemik Flores. Ketika itu, Samuel yang menemani Barend van Gemerden, pengamat burung asal Belanda, melihat elang flores bertengger di atas cabang pohon nagasari Palaquium rostratum. Jaraknya sekitar lima puluh meter dari jalan raya Trans Flores. Untuk meyakinkan amatannya, ia mengirimkan foto burung itu kepada Bas van Ballen. Menurut van Ballen, apa yang dilihat Rabenak memang elang flores, setelah dicocokkan dengan spesimen di museum.

Kami terus berjalan menuju puncak Mbeliling berketinggian 1.270 meter di atas permukaan laut. Setelah beristirahat, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Danau Sano Nggoang yang terletak di Desa Wae Sano. Kira-kira dua jam kemudian kami tiba di kampung Nunang, salah satu kampung di Desa Wae Sano yang berada tak jauh dari bibir Danau Sano Nggoang. Fernandus Jawa memarkir mobil di tepi jalan di bawah rindang pohon sawo kecik Manilkara kauki yang sedang berbuah. Dari Nunang, kami tidak bisa menahan diri untuk segera melihat wujud Sano Nggoang dari atas puncak Golodewa. Kami berjalan kaki menuju hutan Golodewa yang juga merupakan habitat beragam burung. Golodewa merupakan puncak bukit terjal di kaki Gunung Tewasano dan Gunung Pocodedeng. Puncak itu menjadi bagian dari hutan Sesok di sisi selatan Sano Nggoang.

IMG_5159-1

Suasana Desa Nunang. Foto: Burung Indonesia/Rahmadi

Sano dalam bahasa lokal berarti danau, sedangkan nggoang bermakna membara. Padahal, danau vulkanik itu permukaannya hijau. Secara administratif, letak Danau Sano Nggoang diapit Desa Waesano dan Sano Nggoang, Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Luasnya sekitar 513 ha, dengan kedalaman mencapai 600 m. Sayang, jalan menuju Golodewa amat rumit: menanjak, sempit, dan curam. Itu membuat napas tersengal-sengal. Namun, bagi Hendrikus Habur yang menamani kami, jalan terjal dengan rute menanjak dilaluinya bak padang datar.

Langkah tegapnya tanpa henti tidak menunjukkan usianya yang sudah berkepala lima. ”Ayo bergerak. Bila sudah siang, puncak Golodewa panas. Nuansa hijaunya memudar,” kata Hendrik. Itu memacu kami untuk mempercepat langkah. Tak peduli semak dan batu menghadang. Dengan bersusah payah selama satu jam berjalan kaki, kami tiba di puncak Golodewa. Hendrik menuturkan Sano Nggoang merupakan kisah dua perempuan bersahabat bernama Lemor yang lumpuh dan Lamur (buta). Seekor anjing, Nggitu Mole, menemani hidup mereka guna membantu kebutuhan sehari-hari.

Suatu ketika, kala dua sahabat beranjak tua, Lemor yang sudah tidak dapat bergerak lagi memerlukan api. Lamur pun memberikan api dengan cara mengaitkannya pada ekor Nggitu Mole. Namun, api justru mengenai dinding rumah dan membakar seluruh isinya. Dalam kondisi itu, muncul kakek yang menawarkan mereka dua pilihan: nasi atau bubur. Lemor dan Lamur memilih bubur. Maka, bubur pilihan mereka itu berubah menjadi Sano Nggoang seperti yang sekarang ini. Masyarakat Mbeliling hingga kini percaya, dua sahabat itu tinggal di dalamnya.

Dari puncak Golodewa, tampak keindahan Mbeliling. Pepohonan hijau menghiasi kawasan hutan seluas 30.000 hektar di barat daya Flores, Nusa Tenggara Timur. Hutan itu rumah bagi beragam burung. Erwin Schmutz, pater asal Jerman yang kini berdiam di Australia, adalah perintis lingkungan hidup yang peduli akan keragaman hayati. Perhatian besarnya terfokus pada burung dan berbagai jenis tumbuhan. Selama tinggal di Kampung Nunang pada 1963—1985, ia menemukan burung kehicap flores. dan pohon yang kulitnya dapat dimanfaatkan untuk meracuni ikan sebelum dijala. Sympetalandra schmutzii pohon tersebut dinamakan untuk mengenang jasa-jasanya.

IMG_5187-1

Danau Sano Nggoang dari puncak Golodewa. Foto: Burung Indonesia/Rahmadi

Tiburtius Hani, Tim Leader Burung Indonesia Program Mbeliling, menuturkan bahwa kehicap flores dapat dijumpai di hutan Sesok, dekat Danau Nggoang. Wilayah itu merupakan habitat berbagai jenis burung seperti serindit flores Loriculus flosculus, gagak flores Corvus florensis, dan celepuk flores Otus alfredi. Tikus-raksasa flores Papagomys armandvellei berukuran superbesar, panjang dari kepala hingga badannya adalah 41-45 cm dengan panjang ekor 33-37 cm. Sebagai perbandingan tikus besar Sulawesi yang memiliki panjang sekitar 14-16 cm dengan panjang ekor 15-17 cm mempunyai berat bobot 70-98 gram.

Kami menelusuri hutan di lereng menuju Kampung Nunang. Selain sebagai sumber pangan, hutan di sekitar Danau Nggoang itu merupakan sumber air bersih. Dua jam berselang, kami mampir ke rumah Maria Sumur. Ketika menyeruput secangkir kopi panas, seekor srigunting wallacea alias cerciak terbang rendah di atas kepala kami. Seekor caladi tilik Dendrocopos moluccensis sibuk menelisik lubang pohon mati di depan rumahnya. Burung anggota famili Picidae itu tengah mencari serangga sebagai pakan. Beberapa jenis seperti kehicap ranting Hypothymis azurea dan burung-madu matari Nectarinia solaris juga hinggap santai di pohon mangga.

Burung-burung itu merasa tidak terusik akan aktivitas warga. ”Di sini, burung bersahabat dengan manusia. Kami hidup berdampingan,” ujar Hendrik. Saat senja tiba, kami kembali menikmati keelokan Danau Nggoang. Aroma belerang menguar dari danau yang memiliki tiga sumber mata air panas. Sumber air panas pertama bersuhu 30 derajat celcius. Masyarakat memanfaatkannya untuk berendam. Adapun sumber air panas kedua, bersuhu 70C derajat celcius untuk mengusap muka atau membasuh bagian tubuh tertentu. Yang ketiga, bersuhu 100 derajat celcius untuk merebus telur.

Di atas permukaannya yang hijau, empat itik benjut Anas gibberifrons hilir-mudik. Sementara di pohon beringin yang tepat di bibir Sano Nggoang, beberapa ekor kepodang-kuduk hitam Oriolus chinensis berkicau tanpa henti. Mudah mengenali sosok burung itu karena berwarna kuning kontras. Masyarakat Manggarai Barat menyebut kepodang sebagai gadis rupawan. Julukannya Leros karena bulunya yang cantik dan suaranya yang khas. ”Burung adalah sahabat manusia” kata Hendrik.* (Rahmadi, Feri Irawan dan Fahrul Amama, pegiat di Burung Indonesia)

* Majalah Trubus edisi Mei 2014 (Halaman 112-117)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s