Dongeng Burung

Burung, satwa yang mudah bersahabat dengan manusia sering dijadikan inspirasi. Mulai dari logo, simbol perusahaan, produk, hingga cerita dongeng.

Perenjak jawa (Prinia familiaris), misalnya, selalu dikaitkan dengan tamu atau rezeki nomplok, terkadang bermakna buruk akan meninggalnya anggota keluarga. Kepercayaan kental di masyarakat pulau Jawa.

Hal tidak berbeda untuk burung Bentialau. Masyarakat Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau menyebutnya binatang bersuara indah dan berwarna elok. Namun, setelah kalah melawan lingkitang (sejenis siput air tawar) kicaunya berubah sendu mendayu. Timbul anggapan, orang sombong akan berujung bak Bentialau.

Burung pelikan. Foto: Rahmadi

Burung pelikan. Foto: Rahmadi

Di kalangan masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam, burung betet yang berhasil melepaskan diri dari jerat pemburu sangatlah masyur. Betet dianggap burung cerdik.

Para petani di Kulon Progo dan Sleman Yogyakarta menganggap Kuntul kerbau sebagai sahabat. Mereka tidak resah dan gelisah akan kehadiran Bubulcus ibis di pesawahan. Karena tujuan utama burung kepala bulat paruh kokoh hanya memangsa wereng dan belalang. Sebagian Petani juga percaya bahwa Kuntul utusan Nyai Roro Kidul untuk menjaga sawah mereka. Tandanya, bila saat pesemaian bibit padi sawah mereka didatangi Kuntul maka panen akan berhasil. Sebaliknya, bila yang menghampiri rombongan belalang dan wereng berarti Pengusa Pantai Laut Selatan tidak berkenan. Dalam dongeng, Kuntul berwujud burung putih pembawa perdamaian.

Begitu juga dengan burung hantu yang dikenal sebagai burung pemakan daging beraktifitas malam. Mata besar melotot ke depan disertai leher lentur dapat berputar 180 derajat membuatnya berlebel seram. Burung ini jarang terlihat di pepohonan karena gerak dan kecepatan terbang senyapnya.

Di eropa, burung Hantu dijadikan lambang kebijaksanaan. Di India, ia ditampilkan sebagai malaikat pencabut nyawa. Di Indonesia, orang Jawa menyebut darès atau manuk darès yang bermakna maut atau hantu. Dan sebagai motivasi, burung Hantu tergambar dalam kisah “Sepasang Burung Hantu.”

Suatu malam, dari sebuah pohon besar tampak sepasang burung Hantu terbang mencari mangsa. Mereka lapar setelah seharian tidur. Jangkrik, tikus, dan kelinci disantap.

Merasa cukup kenyang, sang Betina bersiap pulang. Namun, sang Jantan enggan pulang karena banyak serangga berkeliaran. Semakin banyak dimakan semakin mengenyangkan, pikirnya.

Sang Betina mengingatkan bahwa malam semakin larut. Bila matahari terbit nantinya sang Jantan tidak bisa melihat jelas, bisa-bisa menjadi mangsa kucing hutan.

Bagai angin lalu, sang Jantan meninggalkan lawan jenisnya menembus gelap hutan. Sedang sang Betina kembali ke sarang, tidur seharian. Malam kembali menghampiri, seperti biasa sang Betina bersiap terbang. Namun, ia tidak ditemani sang Kekasih. Di manakah gerangan? Segera, ia terbang sembari sesekali menyambar mangsa.

Tiba-tiba, tampak sesuatu bergerak di antara rimbunan belukar. Siapakah itu? Ternyata, sang Pujaan hati terkapar lunglai. Terluka parah. Sang Jantan bertutur bahwa dirinya menabrak pohon. Sinar mentari menghilangkan pandangan mata. Tidak hanya itu, seekor kucing hutan berusaha menerkam. Beruntung, ia lolos.

Kini sang Jantan tidak bisa berburu, sayapnya patah. Menyesal.

Memang, burung yang selalu dijadikan tema dongeng coba menjelaskan suatu fenomena alam yang terjadi kala itu. Namun begitu, manusia sendiri yang memaknai arti kehadiran burung di kehidupannya.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s